Senin, 30 April 2018

Pengertian teknologi secara etimologi dan terminologi


Definisi teknologi, perbedaan ayat kauniyyah dengan teknologi Al-Qur'an

A. Definisi Teknologi secara Terminologi dan Etimologi
Secara Etimologi, akar kata teknologi adalah "techne" yang berarti serangkaian metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan sebuah objek, atau kecakapan tertentu, atau pengetahuan tentang metode dan seni. Secara Terminologi, teknologi dapat didefinisikan sebagai entitas, benda maupun tak benda yang diciptakan secara terpadu melalui perbuatan dan pemikiran untuk mencapai suatu nilai. Dalam penggunaan ini, teknologi merujuk pada alat, dan mesin yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia nyata .
Berikut merupakan beberapa Definisi atau Pengertian teknologi secara umum.
1. Teknologi adalah cara dimana kualitas hidup manusia ditingkatkan dengan pengenalan produk baru.
2. Teknologi adalah cabang pengetahuan yang berhubungan dengan penciptaan dan penggunaan sarana teknis dan yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan, masyarakat, dan lingkungan.
3. Teknologi adalah penerapan ilmu pengetahuan (kombinasi teknik ilmiah dan material) untuk memenuhi tujuan atau memecahkan suatu masalah.



Adapun definisi teknologi menurut para ahli :
1. Pengetian Teknologi menurut Djoyohadikusumo (1994, 222) berkaitan erat dengan sains (science) dan perekayasaan (engineering).
2. Sardar (1987, 161) Pengertian teknologi adalah sarana yang pada akhirnya mencetak suatu peradaban, dia merupakan ungkapan fisik dari pandangan dunianya
3. Berikut adalah pengertian atau makna Teknologi, menurut Capra (2004, 106) seperti makna ‘sains’, telah mengalami perubahan sepanjang sejarah.

B. Definisi Teknologi Al Qur’an secara Terminologi dan Etimologi
Secara Etimologi akar kata teknologi adalah "techne" yang berarti serangkaian metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan sebuah objek, atau kecakapan tertentu, atau pengetahuan tentang metode dan seni. Sedangkan Al Qur’an ialah kitab suci bagi umat islam, selain itu Al-Qur’an juga adalah sumber hukum utama dalam ajaran agama Islam.
Jadi teknologi al-qur’an adalah tentang pandangan-pandangan al-qur’an terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi atau yang berhungan dengan fenomena yang terjadi di alam semesta, yang mana di dalamnya membukukan tentang teknologi sejak pembuatan bumi hingga msasa sekarang yang modern, juga mengandung ibroh yang dapat kita ambil seacara utuh keberadaannya di dalam al-qur’an.



C. Perbedaan Ayat-ayat Kauniyyah dengan Riset/Saintis
Pengembangan tafsir ayat kauniah atau ayat sains, di perlukan dalam aspek epistemologi tafsir. Karena itu, sebagai kajian awal dalam aspek di maksud peneliti menawarkan “sistematika metodologi tafsir ayat kauniah atau ayat sains”, ini dengan mengemukakan terrlaih dahuu definisinya secara kebahasaan, kemudian definisinya dalam kontek istilah, dan makna sains atau kauniah, baik secara bahasa atau istilah dalam kajian tafsir al-qur’an.
Sistematika dapat terambil dari bhasa inggri, dan makna “system” dalam kamus oxford, adlah sebuah perangkat ie yang terorganisir / teratur.kemudian istilah: “Tafsir” dalam bahsa indonesia di artikan dengan keterangan atau kejelasan tentang ayat-ayat al-qur’an. Sedangkan makna ‘Tafsir” secara etimologis adalah: penjelasan dan perincian dan ungkapan tafsir ini di gunakan untuk menyingkap makna yang logis atau menyingkap makna yang masih tersembunyi. Adapun definisi tafsir secara terminologis, menurut penulis adalah upaya mufasir untuk menjelaskan makna teks atau ayat al-qur’an yang mudah di fahami oleh pembaca atau audiens berdasarkan kemampuan dan kualitas pemahaman mufasir atas sisi internal ataupun sisi eksternal (ayat) yang di bacanya sehinggga relevan dengan realita yang sedang atau akan di hadapi dan tidak menyalahi akan maksud dan tujuan utama al-qur’an.
Kemudian kata sains berasal dai bahasa inggris “science” dengan makna ilmu pengetahuan, tetapi yang di maksud di sini adalah makna yang identik dengan istilah kauniah ( tentang alam semesta ). Sains atau ,ilmu tentang alam semesta ini menurut para ilmuan sebagaimana yang di nyatakan oleh Jujun Suria Sumantri, bahwa ilmu-lmu alam terbagi kepada dua kelompok, yakni ilmu fisika dan lmu hayat. Ilmu alam bertujuan mempelajari dzat yang membentuk alam semesta dan ilmu alam ini kemudian bercabang lagi menjadi fisika, kimia, astronomi dan ilmu bumi dan cabang-cabang lainnya. Sedangkan makna ayat-ayat kauniah adalah, ayat-ayat al-qur;an yang terkait dengan pembahasan ilmu-ilmu alam.
1. Fungsi tafsir ayat kauniah
Adapun tiga fungsi tafsir jenis ini yakni: pertama fungsi al-tabyin yaitu, menjelaskan teks al-qur’an dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang di miliki oleh sang mufasirnya. Sehingga terjadi keselarasan antara keduanya, antara ayat dengan ilmu pengetahuan dengan tetap memperhatikan aturan dalam sistematika metodologi ayat kauniah. Keduaa fungsi I’jaz yaitu, pembuktian atas kebenaran teks al-qur’an menurut ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang selanjutnya dapat memberikan stimulan atau dapata di tindak lanjuti oleh para ilmuan dalam meneliti dan observasi ilmu pengetahuan lewat penafsiran teks-teks al-qur’an yang telah di lakukannya. Ketiga fungsi Istikhroj al-ilm yaitu, teks atau ayat-ayat al-qur’an mampu melahirkan adanya inspirasi bagi di temukannya teori-teori ilmu pengetshusn stsu teknologi mutakhir. Sebuah fungsi yang masih jarang di wujudkan oleh ilmuan muslim khususnya, dan karena itulah pentingnya di wujudkan sebuah pengajaran sistematika meodologi tafsir ayat-ayat kauniah. Dapat juga di lakukan kejasama atau kolaborasi antara para pengkaji tafsir al-qur’an dengan para ilmuan.
2. Langkah-langkah tafsir ayat kauniyah
Berikut ini langkah-langkah tafsir ayat kauniyah secara teoritis:
1) Menentukan subtopik pembahasan
2) Memahami hakikat ilmu pengetahuan atau realitas atas subtopik
3) Melakukan kerja penelitian dilapangan atau dilaboratorium atas subtopik pembahasan.
4) Menentukan ayat-ayat yang relevan dengan subtopik pembahasan.
5) Memilah metode analisis teks atau ayat atau tema yang ditafsirkan.
6) Analisis teks atau ayat dengan konteks atau hakikat ilmu yang dibahas.
7) Sistensa atau pemahaman kontekstual ayat terkait dengan hakikat ilmu dan realitas sub pembahasan.

Definisi Penafsiran Saintis
Penafsiran saintis adalah sebuah metode penafsiran Al-Qur'an yang dijelaskan berdasarkan data-data sains. Padanannya, seperti metode penafsiran tekstual yang mendasarkan penafsiran Al-Qur'an atas hadis dan metode penafsiran rasional yang mendasarkan penafsiran tersebut atas prolog-prolog rasional.
Dalam metode penafsiran ini, terdapat beberapa poin (baca: kriteria) yang perlu kita perhatikan bersama :
a. Lebih menekankan pada penemuan-penemuan sains dan menjadikannya sebagai tolak  ukur memahami ayat-ayat Al-Qur’an.
b. Penyerupaan.
c. Tidak menghiraukan kriteria-kriteria teologis dan kondisi yang ada pada saat ayat turun.
d. Mempersiapkan kemunculan-kemunculan aliran pemikiran eklektis dan penafsiran material terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
Hanya saja, dua kriteria terkahir ini hanya mendominasi mayoritas metode penafsiran saintis ini, bukan seluruhnya. Meskipun metode penafsiran ini adalah metode yang hanya dimiliki oleh abad keempat belas Hijriah, akan tetapi akar historis metode ini dapat ditemukan pada metode penafsiran abad-abad sebelumnya.

D. Analisis Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan riset ilmiah dantaranya :
1. Metode ilmiah lebih bisa dipertanggugjawabkan, dikarenakan adanya bukti-bukti yang kongkrit dan ada ukuran yang jelas
2. Jelas, dapat dibuktikan dan diamati langsung oleh alat indra pada manusia.
3. Dapat dijadikan satuan atau tolak ukur untuk penelitian-penelitian selanjutnya, bila tidak terdapat kesalahan.
4. Mengajarkan ada manusia untuk menatap realita dan segala seuatu yang ada
5. Operasional, dapat digunakan dan diamalkan dalam kehidupan keseharian
6. Logis, karena dapat dibuktikan oleh semua orang walaupun telah melewati tahap-tahap yang disebutkan diatas, namun metode ilmiah memiliki kelemahan, antara lain:
1. Metode ilmiah tidak mungkin bisa menjangkau objek yang bersifat in materi (ghaib), dikarenakan tidak ada wujudnya ukuran dan timbangan yang jelas
2. Terlalu menggantung pada objek yang ada
3. Metode ilmiah akan beruah bila objek yang diamati telah berubah
4. Kurang valid, karena tidak semua hasil dai metode atau peneitian disuatu daerah akan bisa diterapkan untuk daerah lain
5. Membutuhkan waktu yang lama, karena penelitia dilakukan secara berulang
6. Membutuhkan biaya yang sangat mahal, karena setiap penelitian memerlukan alat bantu berupa peralatan yang menggunakan teknologi canggih
7. Dapat terhapus atau tidak dipakai bila terbukti ditemukan kesalahan dan bila muncul teori lain yang dianggap lebih berguna
8. Cenderung kaku dan tidak terpengaruh oleh rasio.

                             KESIMPULAN

1. Ayat kauiyah adalah ayat atau tanda yang wujud disekeliling manusia yang diciptakan oleh Allah. Ayat-ayat ini adalah ayat-ayat dalam bentuk segala ciptaan Allah berupa alam semesta dan semua yang ada didalamnya
2. Manfaat ayat kauniyah:
a. Merasakan keagungan Allah dan kelemahan diri.
b. menjadi sumber inspirasi bagi manusia untuk mendapatkan maslahat duniawi dan ukhrowi.



Pembahasan Q.S Saba ayat 2

A. Pembahasan Q.S Saba’ Ayat 2 dan Kandungannya.

  يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۚ وَهُوَ الرَّحِيمُ الْغَفُورُ
Artinya:
“ Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dialah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.”
Pada ayat ini Allah menjelaskan bagaimana luas dan dalamnya ilmu-Nya. Dia mengetahui semua yang masuk ke dalam bumi, semua yang keluar daripadanya, semua yang turun dari langit dan semua yang naik ke atasnya. Dengan kata-kata yang ringkas dan pendek ini Allah menggambarkan bagaimana luas ilmu-Nya. Andai kata semua penghuni bumi ini menghabiskan waktunya untuk mengetahui apa yang terjadi di langit dan di bumi dalam satu saat saja, niscaya mereka tidak akan sanggup mencatatnya untuk membuat statistiknya.  Betapa banyaknya bintang-bintang kecil seperti ulat, cacing dan berbagai jenis serangga di dalam perut bumi yang amat luas ini, Betapa banyaknya bahan-bahan tambang yang selalu dalam proses pertumbuhannya seperti emas, perak, tambang minyak, gas dan lain sebagainya.  Betapa banyaknya pula yang keluar dari bumi seperti tanaman yang bermunculan, mata air yang memancar, gas yang naik menjulang, binatang dan seranggga yang ingin menikmati cahaya matahari dan alam bebas dan lain sebagainya, Betapa banyaknya yang turun dari langit seperti hujan yang tak dapat diperkirakan berapa kadarnya yang merupakan rahmat dari Allah bagi hamba-Nya, cahaya yang memancar dengan kerasnya seperti cahaya matahari, cahaya yang memancar dengan tenang seperti cahaya bulan. Kemudian betapa pula banyaknya yang naik ke langit seperti uap dari sungai dan laut, molekul-molekul gas dari tumbuh-tumbuhan, manusia dan binatang serta bumi sendiri. Betapa banyaknya roh manusia yang meninggal dan malaikat yang naik ke langit patuh dan taat melaksanakan perintah Tuhannya. Semua ini tidak akan dapat dicatat oleh manusia apalagi untuk mengetahuinya satu persatu. Tetapi Allah Yang Maha Mengetahui tak ada satu pun yang tersembunyi bagi-Nya semuanya telah tercakup dalam ilmu-Nya.

       Allah mengetahui apa saja yang masuk ke dalam bumi seperti air, berbagai kekayaan alam atau fosil-fosil makhluk yang telah mati. Allah mengetahui apa saja yang keluar dari dalam bumi seperti tumbuhan, binatang, barang tambang, air dan sebagainya. Allah mengetahui apa saja yang turun dari langit berupa malaikat, kitab-kitab suci para nabi, hujan atau petir. Allah mengetahui pula semua yang naik ke langit, termasuk di dalamnya para malaikat, roh dan amal perbuatan manusia. Rahmat Allah sungguh amat banyak dan ampunan-Nya pun amat luas. Seperti air, biji, hewan yang tinggal di dalam tanah dan lainnya. Seperti tumbuhan, hewan yang keluar dari sarangnya di bawah tanah dan lainnya. Seperti hujan dan lainnya. Seperti malaikat, ruh dan amal saleh. Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan makhluk-makhluk-Nya dan kebijaksanaan-Nya terhadap mereka serta pengetahuan-Nya terhadap keadaan-keadaan mereka, maka Dia menyebutkan ampunan dan rahmat-Nya untuk makhluk-Nya. Ampunan dan rahmat-Nya adalah sifat-Nya, dan atsar (pengaruhnya) senantiasa turun kepada hamba-hamba-Nya di setiap waktu sesuai yang mereka kerjakan dari penghendaknya (sebabnya).

Demikianlah luasnya ilmu Allah dan luasnya rahmat dan karunia-Nya kepada hamba-Nya, karena semua yang ada di bumi dan di langit itu diciptakan-Nya untuk kepentingan manusia. Di samping itu Dia Maha Penyayang, memberikan karunia yang tak terhingga Maha Pengampun terhadap orang yang bersalah bila ia insaf dan tobat dari kesalahannya.
Allah berfirman:
. يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
Artinya :“Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”
 Allah memerintahkan kepada golongan jin dan manusia untuk menembus (melintasi) ke penjuru langit dan bumi, arti perintah Allah ini hanya sekedar tantangan Allah untuk menguji dan melemahkan jin dan manusia. Jika mereka kuasan untuk keluar penjuru langit dan bumi dan semacamnya itu hanya ketentuan dan kekuasaan dari Allah S.W.T. Mereka pun tidak mampu menembus (melintasi) kecuali dengan kekuatan, dan mereka tidak mempunyai kekuatan untuk menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi dan juga mereka tidak kuasa. Dan yang dimaksud سلطان  di sini adalah Dzat yang mempunyai kekuatan dan menguasai untuk memerintah. Ayat di atas pada masa empat belas abad yang silam telah memberikan isyarat secara ilmiyah kepada bangsa Jin dan Manusia, bahwasanya mereka telah di persilakan oleh Allah untuk mejelajah di angkasa luar asalkan saja mereka punya kemampuan dan kekuatan; kekuatan yang dimaksud di sisni, sebagaimana di tafsirkan para ulama adalah ilmu pengetahuan atau sains dan teknologi, dan hal ini telah terbukti di era modern sekarang ini, dengan di temukannya alat transportasi yang mampu menembus angkasa luar, bangsa-bangsa yang telah mencapai kemajuan dalam bidang sains dan teknologi telah berulang kali melakukan pendaratan di Bulan, dan dapat kembali lagi ke bumi. Kemajuan yang telah diperoleh oleh bangsa-bangsa yang maju (bangsa barat) dalam bidang ilmu pengetahuan, sains dan teknologi di abad modern ini, sebenarnya merupakan kelanjutan dari tradisi ilmiah yang telah dikembangkan oleh ilmuan-ilmuan muslim pada abad pertengahan.

B. Tela’ah penelitian Modern
     Disamping itu, Al-Qur`an mempunyai bukti keajaiban lain yang membuktikannya sebagai wahyu Allah SWT. Salah satu keajaiban ini adalah kenyataan bahwa sejumlah kebenaran ilmiah yang hanya mampu diungkap oleh kecanggihan abad ke 20, ternyata telah dinyatakan di dalam Al-Qur`an di 1400 tahun yang lalu. Tetapi Al-Qur`an bukanlah sebuah kitab ilmu pengetahuan, namun di dalam sejumlah ayatnya terdapat banyak fakta ilmiah yang dinyatakan sangat ringkas dan mendalam, yang baru ditemukan dengan menggunakan kemajuan teknologi abad ke 20. Fakta-fakta ini belum dapat diketahui pada masa-masa Al-Qur`an di turunkan. Sehingga ini semakin membuktikan bahwa Al-Qur`an memang. Benar dalam firman Allah SWT. Untuk memahami keajaiban ilmiah tentang Al-Qur`an, kita hendaknya melihat terlebih dahulu tingkat pengetahuan pada saat kitab suci ini diturunkan.
Salah satu hasil perkembangan teknologi yang pesat yang berhubungan dengan kandungan ayat dalam alqur’an yaitu Roket, Alqur’an juga melakukan penelitian/Riset ilmiah pada teknologi Roket pada QS Saba ayat 2 yang tadi di terangkan. Ketersediaan bubuk hitam (mesiu) untuk mendorong proyektil adalah pelopor pengembangan pertama dari roket berbahan bakar padat. Pada abad ke sembilan Ahli kimia Taoisme Cina menemukan bubuk hitam saat sedang berusaha membuat Obat awet muda (elixir of immortality). Penemuan secara kebetulan ini mengarah ke percobaan dalam bentuk senjata seperti bom, meriam, panah api pembakar dan panah api pembakar berpendorong roket.Penemuan mesiu diperkirakan adalah abad eksperimen produk alkimia.

C. Manfaat keimanan
Allah berfirman:
   كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ
“Kitab (Al Quran) yang kami turun kan kepadamu penuh berkah ,agar mereka  menghayati ayat ayat nya dan agar orang orang yang berakal sehat mendapat pelajaran”
Ini lah sebuah kitab menjadi khabar dari mubtada yang tidak di sebutkan ,yakni ,ini adalah kitab (yang kami turunkan kepada mu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan). Lalu mereka beriman kepada nya (dan supaya mendapat pelajaran )mendapat nasihat (orang orang yang mempunyai pikiran )yaitu yang berakal. AL hasan Al basri mengatakan ‘’demi allah’’bukan lah mengambil pelajaran dari Al quran engan menghafal huruf huruf nya . Sehingga seseorang dian tara mereka (yang tidak mengindahkan batasan batasannya)mengatakan ‘’aku telah membaca seluruh alquran tapi pada dirinya tidak ada ajaran Al quran yang I sandang nya,baik pada akhlaknya ataupun pada amal perbuatan nya .